Jumat, 31 Oktober 2014

Maafkan aku sahabat.

Akhirnya terjadi juga. Ketakutanku selama ini. Finally some another friend  who came into my life,  can't handle my worst temper. Aku telah gagal membina niat tulus persahabatan nya. Aku terlalu keras sehingga melukai hatinya. Maafkan aku telah menumpahkan kekesalan dan kesemrawutan keadaanku padamu. Kini aku tak tau lagi harus bicara apa. Mungkinkah aku selama ini menyia-nyiakanmu. Maaf kan aku bila aku seperti anak-anak.

Maafkan aku bila kau menggaanggap dirimu tempat persinggahanku belaka.

Sabtu, 24 Mei 2014

A Complicated person, am I?

Bila aku boleh kategorikan, ada dua divisi di kalangan pria penyuka pria. Divisi yang pertama adalah divisi simplicity dan divisi yang kedua adalah divisi complicated. Kedua bagian ini tidak terpisahkan sama sekali tetapi saling melengkapi satu bagian utuh yaitu divisi pria penyuka pria. Kalau di-grafikkan memakai angka 1-10. Maka divisi simplicity menempati angka 1-5 dan 1-6 ditempati oleh divisi complicated. Maka setiap individu penyuka sejenis akan mnempati angka tersebut. Aku boleh bilang, divisi simple itu yang gampangan, cetek or shallow. Sesangkan divisi complicated itu dari ribet rempong sampai highly sophisticated and complex. Aku yang mana ya?

Kalau aku sih kadang gampangan kadang rempong juga. Loh. Maksudnya apa ya? Aku pikir semuanya tergantung kepada yang menilai. Ada yang bilang seseorang itu ribet, belum tentu dia ribet dengan orang lain. Begitu juga sebaliknya. Ya tapi dinilai dari tingkatan gampangan ke  complicated itu setiap individu bisa menilai dirinya sendiri.

Biasanya orang gampangan itu buat yang gampangan juga. Yang complicated buat yg complicated juga. Sebagaimana perkataan yang baik buat yang baik yang jahat buat yang jahat. ;-)

Ada yang menilai aku sebagai orang gampangan. Ada juga yang menilai aku sebagai orang yang rempong. Entah lah. Inilah diriku apa adanya. Aku sendiri masih dalam tahap pencarian jati diri yang mungkin tiada hentinya.

Selasa, 20 Mei 2014

Menjaga hati.

Apakah kamu pernah patah hati gara-gara sesuatu yang mungkin kamu pikir itu cinta? Sesering apa kamu jatuh bangun dalan hubungan percintaan? Pernahkah kamu menangisi seseorang karena dia tak acuh? Aku sih pernah. Tapi jujur aku malu. Beruntung dia tidak mengetahuinya, kalau dia sampai tau pastinya membuat dia sok cantik. Rasanya aku seperti orang bodoh bila menangisi seseorang yang sekarang menurutku membosankan.

Menjalani hubungan dengannya layaknya suami istri yang pisah ranjang. Aku tak mengerti apakah memang seperti itu gaya dia berpacaran. Yang aku rasakan adalah seperti itu. Sangat berkontradiksi dengan saat-saat pertama kali kami saling mengenal. Aku begitu bahagia seperti anak kecil yang menemukan hobi batu ketika pertama kali bertemu dengannya. Karena dia begitu menarik di mataku. Tiap hari yang ada rasa kangen menyelimuti diri ini. Sehari tak menyapa, seperti sebulan. Melihat fotonya saja bisa menggetarkan hati dan membuat jantung berdebar girang.

Kini, hanya sapaan biasa yang kami lakukan via instant messaging. Aku tak tahu apa yang ada di hatinya. Memang sudah sifat kebanyakan manusia yang ingin segalanya jelas, jelas hitam atau putih, yes or no. Ini yang aku harapkan darinya waktu itu. Sehingga hari-hariku pun dirundung mendung kegalauan. Andai saja aku bisa mengikatnya dengan tali perkawinan. Pasti sudah aku lamar dia dari dulu. Tapi kisah kita kan beda. ;( Kisah cinta kami ini kan complicated. Jadi tidak bisa mengharap kepastian yang lebih dari kepastian bahwa dia kini masih mau menjalani hubungan denganku walaupun tidaklah sepenuhnya.

Biarkan saja aku menjaga perasaan ini. Menjaga segenap cinta yang mampu dia berikan kepadaku. Walaupun sebenarnya aku mengharapkan lebih.

Aku menunggu perasaan rindu itu yang seolah adalah harapan hidup. Di dalam penungguanku kadang aku mendapatkan getaran hati bila berjumpa orang lain. Aku sudah mempunyai seseorang tetapi seperti jatuh cinta lagi. Entah, tapi inilah kejujuran nurani. Tapi sejujurnya aku tak mau melukain hati nan suci.

Sabtu, 17 Mei 2014

To have a relationship, to end promiscuity.

Lebih lengkapnya, to have a boyfriend, to love, to be loved, to  to have someone who respects you, to end promiscuity. Kalo kurang lengkap bisa melengkapi sendiri ya. Kali ini saya mau berbicara tentang promiscuity di kehidupan kita. Sekalian saya mau curhat juga sih. Apakah orang seperti kita ini ditakdirkan untuk mau tidak mau bergaya hidup ala promiscuity. Bercermin dari diri sendiri, saya akhir-akhir ini cukup khawatir sehingga perlu sekali untuk menuangkan kegelisahan dan kegalauan saya di tulisan ini.

Menurut penelitian, dipukul secara rata seorang laki-laki selama hidupnya mempunyai 9 pasangan sexual yang berbeda. Sedangkan perempuan mempunyai 4. Saya yakin itu adalah mereka-mereka yang normal. Bagaimana dengan para penafsu sejenis. Homosexual atau lesbian saya yakin lebih dari rata-rata pada umumnya. Saya sendiri saat ini sudah 30 male sexual partner yang saya ingat. Di satu sisi, itu membuat saya lebih percaya diri bahwasannya saya disukai orang juga. Tapi di sisi lain ada sesuatu yang mengganjal dalam sanubari ini. Bila saya menggambarkan diri ini, mungkin tidak jauh beda dengan seorang pek choon.

Setidaknya, saya masih memegang kepercayaan bahwa mempunyai hubungan sexual dengan satu orang untuk waktu yang panjang itu lebih baik dari pada bergonta-ganti pasangan. Tidak perlu dibuktikan lagi, bahwasannya promiscuity itu banyak resiko terkena penyakit menular sexual dan virus yang membahayakan kehidupan kita. Lalu kapan ya saya memulai untuk mempunyai hubungan sexual yang sehat dan menyenangkan dengan seseorang? That, I am still figuring out.

Semuanya complicated seperti benang kusut. Banyak sekali pilihan-pilihan dalam hidup ini yang harus kita pilih. Berbagai variabel pilihan itu menentukan pilihan yang menjadi variabel untuk pilihan selanjutnya. Hingga saya sering menyia-nyiakan hal-hal yang tidak terlihat penting tetapi ternyata penting. Saya begitu imajinatif, sehingga setiap hal yang akan saya pilih seolah mempunyai jalan ceritanya sendiri di masa yang akan datang. Masa depan yang tergambar dipikiran itulah yang sering menggoyahkan sebuah pilihan.

Lalu sebuah hubungan seperti apa yang sebenarnya saya cari? Saya ingin sekali mempunyai pasangan yang memahami saya sebagai manusia biasa. Pasangan yang tidak menghalangi perkembangan pribadi dan impian-impian saya. Seseorang yang melupakan sejarah menyedihkan saya. Bersama kita bisa. Ciuss.. ;)

Jumat, 28 Maret 2014

What if your colleagues know your homosexual lifestyle?

It has always occured in my mind that my homosexual lifestyle will be known by colleagues or boss. What if they knew my homosexual lifestyle and started to behave differently or even shun away from me? I used to have that kind of fear. Especially here in Indonesia where homophobic people are everywhere. At least they look down on us, if they are not homophobics. With the negative stereotypes of gay people, you of course will feel insecure if they know about you. I think it's normal for people like us to feel unsafe or somewhat lonely in the crowd of people not like us.

But however, this kind of feeling must not hold or hinder us from exploring the world. I should had realized this long time ago. But still it scares me to imagine if my kinded heart friends and colleagues know who truly I am. Can't imagine if they start to look away from me when I call. After worrying thought and thinking, I become pathetically depressed. I just can't be myself around them. What the fuck...what's wrong with me.

Senin, 24 Maret 2014

My story as newbie in Jakarta

Jakarta is very hedonistic city. Good place for people who wants to feel an urban life. Oportunities are aplenty. You can meet people of different background in Jakarta. The best for me about Jakarta is that I train my patience, endurance, patience.
It's hard for me as Javanese boy, who used to be so slow, mommy boy to adapt to new harsh real life. To make matters worse, I am gay who just separated with my loved one. In my first three months I was so lonely and sad, I even couldn't hold my tear drop in public places such as Trans Jakarta or Train when I talk with my bf on the phone. I was not good also with new people at work. The first 3 weeks at work I always thought about quitting work and getting back to hometown. My trainer was so rude at work, I perform badly until I got warning of termination if I don't perform better.

Gay people are also so bad in Jakarta. When I started to look for a date...all ended up very pathetic. First time I met a sexy 40+ guy who works in film Industry. I thought that he can be someone as a lover, to become my bf, but it turned out that I had been only his tool for sexual fulfilment. I couldn't accept that kind of behavior. He just dumped me like he never needed me. My calls, sms had never been answered. I knew then sexual life of gay people in urban city like Jakarta.

I was so fragile, depressed and angry to myself. I struggled everyday alone. Like everything passes, my sorrow and loneliness passed step by step. I learnt about living in new city a lot now. I started having friends, most importantly gay friends. Their presence in my life is important. Also friends like all of you although we have neve meet, have been helpful in my life. I have been struggling until now for better life in Jakarta.

Rabu, 19 Maret 2014

Kefemininan Lelaki

Aku adalah lelaki homosexual yang tidak banci. Setidaknya banyak yang menyatakan kalau aku tidak kemayu. Walau sebenarnya aku menyimpan hasrat untuk berlaku demikian. Tetapi apakah sifat keperempuanan nan lemah lembut pada seorang laki-laki itu negatif. Setidaknya mayoritas kaum lelaki  akan menganggap yang begitu adalah negatif. Sehingga mereka berusaha mati-matian menjauh dari sifat lemah gemulai.

Pada pria normal pastinya tidak merasakan adanya keharusan untuk mempertahankan penampilan dan karakter kelelakiannya. Karena dia merasa nyaman dengan dirinya dan tidak ada perasaan untuk menutupi kurangannya. Tetapi bagi para gayus, sedikit kefemininan akan sangat mengganggu. Bahkan bila ada pria yang kemayu dia akan menjauh darinya bahkan mencibirnya.

Ada pengalaman, sering kali aku dan teman normalku menertawakan kefemininan seseorang pria kemayu yang jelas-jelas memperlihatkan homosexualitasnya. Kami dengan pedenya saling melemparkan candaan-candaan perbancian terhadap seseorang. Di salah satu sisi aku merasa bersukur karena temanku tidak merasa menyinggung dan melukai perasaanku, di sisi lain aku kadang merasa berdosa. Tidak seharusnya aku berbuat demikian. Tetapi sudah menjadi hal biasa bagi pria-pria normal untuk menertawakan kewanitaan seorang laki-laki.

Bicara tentang pria kemayu, sebenarnya pria kemayu itu menurutku menunjukkan keramah-tamahan. Banyak pria homosexual yang mengaku macho menjauhi pria yang ada sedikit sifat kemayu. Padahal macho atau maskulin itu ditentukan oleh yang melihatnya.

Aku sendiri pernah jatuh cinta sama pria kemayu. Aku sangat nyaman berada di dekatnya. Aku merasa terhibur bila bercand dengannya. Kadang aku suka tertawa sendiri kalau mengingat-ingat obrolan-obrolan kami. Kata-kata yang dia gunakan; iya lah yaw...duong..sebel dech, menunjukkan selera humor tersendiri yang menghibur jiwaku yang sering serius. Menurutku pria kemayu itu harmless. Dan kalau di ranjang kemayu atau tidak, tidak akan kentara. Saat itulah aku bisa merasakan kelelakiannya.